Mahasiswa, Sepakati Saja.
Baru-baru
ini kita kembali disapa dengan disahkannya RUU Cipta Kerja yang mana RUU ini
merupakan salah satu Rancangan Undang-undang kontroversial yang menjadi produk
hukum terbaik (Katanya) untuk para wong cilik, dari beberapa Rancangan
Undang-undang Omnibuslaw. Yaa tepat pada tanggal 5 Oktober 2020, tercipta lagi
sebuah sejarah baru dimana dalam kondisi yang sangat tidak menguntungkan
seperti ini masih ada saja segelintir orang yang memafaatkan situasi untuk bisa
meraih keuntungan darinya. Banyak point yang dinilai tidak lagi memikirkan
rakyat kecil didalam RUU yang disahkan tersebut, mulai dari persoalan waktu
istirahat dan cuti, upah ataupun gaji para pekerja, kemudian aturan jam kerja,
dan status Kontrak bagi para pekerja serta point-point kontorversial lainnya
dari RUU cipta kerja ini.
Hal yang
ingin penulis bahas bukanlah masalah Rancangan Undang-undang ini, karena memang
RUU ini memang tidak tepat. Hal yang sangat menggelitik disini adalah saat
mahasiswa saat ini kembali bersatu setelah sekian lama menjadi pribadi yang
apatis dan pragmatis serta sudah mulai kehilangan fungsinya. Mahasiswa yang
sudah tak peduli dengan lingkungannya dan merasa baik-baik saja ketika ada
rekan mahasiswanya menjerit menderita karena ketidak adilan yang di terima. Ya,
dahulu begitu banyak para aktivis yang memang menjaga idealisnya sebagai
seorang mahasiswa yakni sebagai penyambung lidah rakyat dan menjadi atrikulator
dari pesan pemerintah. Namun uniknya hari ini hal itu sudah pudar, Unik memang
sekarang mahasiswa lebih senang untuk menggadaikan idealis yang sejatinya
menjadi suatu jubah kebesaran mahasiswa hanya dengan beberapa lembar uang.
Hari-hari
mahasiswa hari ini disibukkan dengan agenda persiapan PILKADA serentak 9
Desember 2020. Ya, hal ini dikarenakan targetan para pemangku kepentingan
adalah menggaet para kelompok melenial agar branding diri semakin meningkat.
Mahasiswa sebagai salah satu unit dari kelompok melenial tak luput dari sasaran
para pemangku kepentingan. Kita bisa lihat hari ini berapa banyak mahasiswa
yang terlibat langsung dalam praktek politik praktis, mulai dari menjadi buzzer
calon hingga menjadi tim pemenangan calon dalam kontestasi PILKADA nanti.
Selain
banyaknya mahasiswa yang terlena dengan kefanaan yang diterima dalam persiapan
menuju PILKADA, koptasi yang terjadi dilingkungan organisasi mahasiswa ataupun
kepemudaan baik di internal kampus ataupun eksternal kampus menjadi salah satu
faktor yang menyebabkan kebisuaan dari para mahasiswa untuk menyuarakan
keadilan. Bisa kita lihat kelompok organisasi internal kampus yang enggan
membangun relasi dengan organisasi yang ada di eksternal kampus, kemudian
hubungan yang tak terjalin baik antar lembaga kampus baik antara mereka yang
berada didalam satu alamamater maupun dengan yang berbeda alamamater dengannya.
Benar, ini tak terlepas dari ego sektoral yang muncul dimana satu kelompok
menganggap mereka lebih hebat dari yang lain begitupun sebaliknya, sehingga
mahasiswa tak lagi satu suara.
Gak
sampai disana, jika dahulu mahasiswa aksi dengan turun kejalan dan menyuarakan
aspirasi dengan toa disertai kepalan tangan, hari ini mahasiswa lebih gemar
aksi melalui dunia maya yang itupun tak pernah dia sadari kefektifan dari apa
yang ia kerjakan. Kita liat saja sekarang ratusan ribu tagline tentang tolak
RUU cipta kerja dan sudah menembus angka satu juta tagline tentang mosi tidak
percaya pada pemerintah. Namun realitanya itu tak berpengaruh apa-apa terhadap
kondisi kita saat ini. Satu sisi ratusan ribu postingan tentang RUU ini pun
hanya dijadikan sebagai pemenuhan time line agar dianggap mengikuti
perkembangan terkini. Gak sedikit orang yang memposting berbagai macam bentuk
umpatan ataupun kekesalannya tentang RUU cilaka ini ke dunia maya, namun
setelah umpatannya disalurkan yang dilakukannya adalah kembali rebahan.
Konyol
memang ketika kita menginginkan suatu perubahan namun kita menjadi kaum
rebahan. Kita bisa lihat contoh sederhana dimana tidak ada lagi kesamaan rasa
yang ada pada diri mahasiswa dimana individualistik itu sekarang sangat kuat
didalam diri mahasiswa. Masalah ini ditambah dengan tidak adanya lagi orang
yang mengambil peran sebagai Solidarity Maker, sebab hari ini kebanyakan orang
hanya berfikir untuk bisa menjadi seorang Konseptor dan enggan menjadi
Eksekutor, sebab mental mahasiswa yang sudah tak lagi berani untuk berorasi
menyuarakan kepentingan rakyat. Mereka lupa bahwasannya peran konseptor,
Eksekutor, dan Mobilisator itu sangat penting dan sama kedudukannya dalam suatu
kelompok.
Kekeliruan
yang terjadi semakin kuat aromanya dengan ketidak pekaan mahasiswa dengan
situasi dan kondisi, hal-hal diatas adalah penyebab ketidak pekaan tadi,
ditambah mahasiswa sekarang tidak lagi mampu berfikir visioner, tak lagi
memikirkan apa yang akan terjadi dikemudian hari, karena mereka sudah
teriming-imingi oleh berbagai macam janji dan pemberian dari para politisi.
Sekarang kita mau berbuat apa? Sebab yang kemarin masih menjadi Rancangan
Undang-undang sekarang sudah menjadi Undang-undang, Lucu memang kekita kita
baru berteriak ketika sesuatu udah terjadi, baru menjerit saat kita sudah
dilukai, tapi tak pernah mau berfikir untuk mencegah sesuatu itu sebelum
terjadi. Sekarang RUU Cipta kerja sudah diketok palu, lalu kita baru mau
mengeluh dan menyesalkan yang terjadi. Kalo kita berfikir untuk membatalkannya
sekarang tentu yang ada sama saja kita dengan melawan ketentuan hukum yang
berlaku.
Sia-sia
sebebnarnya saat sesuatu yang telah terjadi dan kita baru mau menuntut sesuatu
itu untuk dibatalkan, bak nasi telah menjadi bubur mungkin itu kata yang tepat
untuk melengkapi kondisi saat ini. Maka sekarang bertahanlah dengan keegoisan
yang mendarah daging itu yang telah menjadi penyakit kronis di dalam diri mahasiswa.
Pertahankan saja moto baru yang ada itu “Hidup itu mesti realistis”, sebab baru
Ombunislaw kok yang disahkan, santai saja sebab PILKADA tetap akan berjalan dan
gak terganggu, sebab kalo pilkada yang terganggu baru kita teriak Lawan!,
karena perut dan dapur kita masih aman. Nanti ketika perut dan dapur kita
terganggu baru qoute yang akan kita pakai adalah “ Hidup itu harus idealis
lah”. Karena percuma ketika time line yang bergema tapi gedung itu tidak dibuat
bergema, jadi sepakati saja.
Komentar
Posting Komentar