New Normal-New Moral ? : Degradasi Moral di Tengah Pandemi.
Dewasa ini dunia disibukkan
dengan berbagai macam agenda dalam proses penanganan covid-19, tak terkecuali
indonesia yang makin hari kian terdesak karenanya. Indonesia tercatat sebagai
salah satu negara yang sangat terdampak dan masih belum mampu mengendalikan
laju penyebaran covid-19. Tercatat sudah mencapai angka 163.000 kasus pada 26
Agustus 2020, angka ini diprediksi akan terus bertamabah seirirng dengan
kurangnya kesadaran tiap-tiap individu dalam menerapkan protokol kesehatan yang
dikeluarkan kementrian Kesehatan.
Seiring perkembangannya
tadi, hal ini menyebabkan pemerintah mesti mengambil berbagai macam langkah dalam
proses percepatan penanganan covid-19 di Indonesia, Mulai dari penerapan
Protokol kesehatan hingga mengambil tindakan PSBB (Pembatasan Sosial Bersekala
Besar). Indonesia yang sudah menerapkan berbagai macam cara tadi, masih saja
belum mampu mengontrol angka penyebaran covid-19. Hal ini diakibatkan oleh sikap
dan gaya hidup pribadi-pribadi itu sendiri.
New Normal, sebuah istilah
yang sudah akrab ditelingah dan mungkin sudah menjadi hal yang sudah
membosankan untuk diperbincangkan. Hal ini karena masyarakat sudah mulai bosan
dengan situasi saat ini ditambah lagi dengan ketidak percayaan masyarakat
terhadap pemerintah karena tidak transparanannya pemerintah dalam proses
penagnan covid-19.
New Normal merupakan salah
satu langkah yang diambil oleh pemerintah Indonesia. Ya, hal ini diambil karena
pemerintah beranggapan bahwa dengan mengambil tindakan ini dapat menguatkan
kembali perekonomian masyarakat yang sudah sangat mengkhawatirkan. Hanya saja
penerapan new normal dan penerapatan protokol kesehatan sebagai salah satu cara
yang dianggap efektif tadi kurang mendapatkan support oleh sebagian masyarakat
dan pemerintah itu sendiri.
Penerapan new normal
dinilai bukan solusi yang tepat karena paradigma yang berkembang dimasyarakat
menganggap bahwa New Normal itu merupakan pola hidup yang sama seperti yang
mereka terapkan ataupun yang sudah mereka biasakan sebelum pandemi sebelum
melanda negri ini. Kesalahan berfikir ini mengakibatkan semakin meningkatnya
kasus penyebaran virus tersebut sehingga tidak bisa dikenadilikan lagi.
Disamping itu kita tidak
bisa sepenuhnya menyalahkan masyarakat terkait dengan semakin tingginya angka
penyebaran tadi, hal ini tidak terlepas dari perilaku pemerintah sendiri yang
tidak taat dalam menjalankan protokol kesehatan tadi. Ya, kita bisa liat
diberbagai agenda yang mereka laksanakan, saat mereka melakukan kegiatan yang
sifatnya mengumpulkan masa dalam satu tempat, mereka sendiri pun masih banyak
yang kedapatan tidak menggunakan masker ataupun tidak menerapkan social
distancing dan psycal distancing, artinya pemerintah sendiri yang mestinya
menerapkan ataupun menjadi teladan masyarakat masih gagap dalam menerapkan
aturan yang mereka tetapkan sendiri. Ini menjadi perkejaan rumah kita bersama,
karena hal ini menjadi sebuah faktor utama kenapa proses percepatan penanganan
covid-19 di indonesia masih terkesan gagal.
Ya, baru-baru ini kita
merasa miris melihat ketidak sinergian antar elemen terkait dalam proses
penagnan covid-19, salah satunya tindakan pengusiran jenazah yang akan
dikebumikan disalah satu tempat pemakaman yang sudah disediakan atau sudah
dikhususkan untuk para korban covid-19. Seiring dengan mewabahnya Covid-19
yang terjadi di sejumlah daerah, jumlah pasien yang meninggal akibat terpapar
virus itu tercatat terus bertambah. Ironisnya, di tengah kondisi tersebut
justru kasus penolakan warga terhadap pemakaman jenazah pasien Covid-19 juga
terus bermunculan. Hal itu diduga karena kurangnya sosialisasi dan edukasi kepada
masyarakat. Tak hanya menolak, ambulans yang membawa jenazah korban tersebut
juga diusir secara paksa oleh warga setempat. Mendapat perlakuan itu, pihak
keluarga korban hanya bisa pasrah dan bingung akan dimakamkan di mana jenazah
keluarganya tersebut. Hal ini sebenarnya akan menjadi masalah baru sebab efek
yang ditimbulkan dari ketidak kooperatifan masyarkat akan mengakibatkan
molornya waktu pemakaman jenazah tersebut.
Tak sampai disana bagi keluarga si
jenazah tersebut hal ini akan menjadi sebuah preasure yang sangat dahsyat
karena masyarakat justru menganggap bahwa virus itu sebagai aib dan bagi orang
yang terpapar akan melahirkan paradigma bahwa mereka itu mesti dijauhi dan
diasingkan. Hal-hal ini akan sangat mempengaruhi psikologi dari mereka yang
terdampak covid-19, sehingga memudarkan semangat mereka untuk melawan virus
yang menyerang mereka dan hal ini juga mengakibatkan turunnya imunitas tubuh
mereka sehingga mereka semakin tenggelam ke dalam virus yang menyerang mereka.
Imunitas yang turun juga menyebabkan proses penyembuhan dan pemulihan mereka
akan semakin lama dan semakin sulit.
Paradigma yang seperti ini mestinya
di benahi karena hal ini justru akan merusak moral bangsa atau bahkan
menciderai identitas bangsa, bukankah bangsa indonesia adalah bangsa yang
ramah?, bukankah bangsa indonesia itu adalah bangsa yang menjunjung nilai
kebersamaan dan kekeluargaan?, atau malah hari ini bangsa indonesia sudah
kehilangan identitas itu dan justru menjadi bangsa yang individualistik?.
Seharusnya kita semua mesti memberikan dukungan moril ataupun materil kepada
mereka yang terpapar covid-19, karena hanya dengan dukungan tadi mereka bisa
terus survive melawan virus yang menyerang mereka.
Memang ketika kita berbicara
persoalan pandemi, virus ini adalah sebuah momok yang menakutkan bagi kita,
hanya saja kita mesti cerdas dalam menyikapi persoalan ini karena jangan sampai
pandemi ini juga merenggut identitas dan jati diri kita sebagai bangsa
indonesia, karena seyogyanya dalam kondisi seperti ini kita mesti berkerja
sama, bergandengan tangan melawan dan mengatasi pandemi ini agar kita semua
bisa kembali hidup seperti biasanya dan beraktivitas seperti yang kita rindukan
selama ini, kita semua bosan dan resah dengan belenggu pandemi ini, hanya saja
kita belum sadar bahwa yang semestinya kita lakukan adalah berkerja sama dalam
proses percepatan penanganan covid-19 ini agar apa yang kita harapakan bisa
tercapai.
Saat pandemi ini sudah menyasar dan
berdampak terhadap kebebasan, ekonomi, sosial kita, lalu apakah pandemi ini akan
membuat kita kehilangan nurani dan apakah pandemi ini juga menjadikan kita
sebagai manusia yang bukan manusia?
Komentar
Posting Komentar